Sunan Ibnu Majah dari Anas secara marfu :”Barang siapa yang hendak berbekam , maka hendaklah ia memilih hari yang ke 17,19 atau 21.dan jangan sampai DARAH BERGOLAK (TEKANAN DARAH TINGGI) pada salah seorang dari kamu, SEHINGGA AKAN MEMBUNUHNYA”

Rabu, 03 September 2014

Hari hari yang sebaiknya di hindari untuk berbekam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa berbekam pada hari Rabu atau hari Sabtu, lalu tertimpa wadhah [1], maka hendaklah dia tidak menyalahkan, melainkan dirinya sendiri.” [2]

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu mengatakan:

“Mengenai pemilihan hari-hari bekam, di dalam kitab Jaami’nya, al-Khallal mengatakan: ‘Harb bin Isma’il menceritakan sebuah riwayat kepada kami, dia bercerita, aku pernah tanyakan kepada Imam Ahmad: ‘Apakah ada hari dimana bekam dilarang untuk dilakukan?’ Dia menjawab: ‘Bekam itu dilarang pada hari Rabu dan Sabtu.’

Masih dalam riwayat yang sama, dari al-Husain bin Hisan, bahwasanya dia pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah mengenai bekam, ‘Kapan bekam itu dilarang?’ Dia menjawab: ‘Pada hari Sabtu dan Rabu.’ Mereka juga berkata: ‘Pada hari Jum’at.’

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Salamah dan Abu Sa’id al-Maqbari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, secara marfu': “Barangsiapa berbekam pada hari rabu atau hari Sabtu, lalu dia ditimpa oleh panu atau lepra, maka janganlah dia mencela, kecuali dirinya sendiri.” [4]

Al-Khallal juga mengatakan: “Muhammad bin ‘Ali bin Ja’far memberitahu kami, bahwa Ya’qub bin Bakhtan menceritakan sebuah riwayat kepada mereka, dia bercerita: ‘Imam Ahmad pernah ditanya mengenai an-nurah (berkapur) dan berbekam pada hari Sabtu dan Rabu. Maka Imam Ahmad bin Hanbal memakruhkannya’.”

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu mengatakan:

“Ini berarti segala macam penyakit disebabkan oleh darah. 
Hadits-hadits di atas sejalan dengan apa yang disepakati oleh para dokter, bahwa bekam di paruh bulan yang kedua, dan seperempat ketiga setelahnya lebih bermanfaat daripada awal dan akhir bulan.
Jika dibutuhkan bekam akan tetap bermanfaat setiap saat meski dilakukannya pada awal atau akhir bulan.” [10]


Catatan kaki:

[1] Wadhah berarti cahaya dan warna putih, dan terkadang juga diartikan penyakit lepra. Lihat kitab Mukhtaarush Shihaah, pada kata wadh-hun (hal. 726).
[2] Lihat kitab Kasyful Astaar ‘an-Zawaa-idil Bazaar, karya al-Haitami (III/388).
[3] Lihat kitab Shahih Sunan Ibni Majah (II/261) karya Imam Al-Albani.
[4] Zaadul Ma’aad (IV/61).
[5] Ibid.
[6] Lihat kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani rahimahullahu (II/204).
[7] HR. Abu Dawud (no. 3861), lihat kitab Shahih Sunan Abi Dawud (II/732).
[8] Urat yang terdapat di leher sebelah kanan dan kiri.
[9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di dalam kitab Sunan-nya (no. 2052). Dan di dalam kitab Mukhtashar asy-Syamaa-il (hal. 190), Abu Dawud (no. 3860), Ibnu Majah (no. 3483), Ahmad (III/119-192), sanadnya shahih. Dan dinilah shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi.
[10] Zaadul Ma’aad (IV/59).

Sumber: Bekam Cara Pengobatan Menurut Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, karya Dr. Muhammad Musa Alu Nashr (penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M) penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i cet. Pertama Muharram 1426 H – Maret 2005 M, hal. 79-83.

Rabu, 07 Mei 2014

CONTACT PERSON

Thibbun Nabawi ABU AULIA
Terapi Bekam, Reflexi, Pijat dan Gurah
Jl. Masjid III, No. 132, Rt 06, Rw 06, Cipayung, Jakarta Timur 13840
XL : WA 0814932128246, Telkomsel : 081284887535







Lihat Thibbun Nabawi ABU AULIA di peta yang lebih besar

Senin, 14 Oktober 2013

Kami Mengucapkan


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

KAMI KELUARGA BESAR THIBBUN NABAWI ABU AULIA
MENGUCAPKAN :

Selasa, 01 Oktober 2013

BEKAM UNTUK MENGATASI GANGGUAN SIHIR

“Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.  Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (an-Naas (114) : 1-6)]

Menurut keterangan ahli hadits dari kalangan tabi’in, antara lain Abu Qatadah ( 61-118 H) dan Hasan al Bashri (21-110 H), di antara jin dan manusia ada yang menjadi setan. Pendapat ini diperkuat oleh dialog Abu Dar dengan Nabi Muhammad saw.


Rasulullah saw. bertanya, “Wahai, Abu Dar, apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan setan yang berasal dari jin dan manusia?” Abu Dar bertanya, ” Ya Rasulullah, adakah setan-setan berasal dari manusia ?” Nabi saw. bersabda, “Ya, benar-benar ada.” (HR Ahmad bin Hambal).

Sihir adalah suatu kejahatan yang di perbuat oleh manusia dengan bekerjasama (bersekutu) dengan jin, dan keduanya adalah setan, musuh yang nyata bagi manusia atau jin yang beriman, mari kita perhatikan apa Firman Allah SWT dalam  Al-qur'an tentang hal ini :

بِسمِ الله الرَّحمنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَق ١
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ٢
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ٣
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ٤
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ٥

Artinya:
1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul[1609],
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."

Keterangan:
Surat ini menerangkan cara kerja/ prosesi tukang sihir, tenung, santet guna2, voodoo atau dengan istilah lainnnya sesuai daerah atau negara.

[1609] Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.

Sebagian perawi hadits menggabarkan bahwa Rosulullah Saw, pernah terkena penyakit karena sihir Yahudi. Beliau Saw, berhalusinasi seolah-olah melakukan sesuatu yaitu mendatangi istri-istriNya, padahal Beliau Saw tidak melakukannya. Sebagai penyembuhan sihir tersebut Rosullullah Saw. minta dibekam pada bagian kepalanya dengan menggunakan tanduk. Riwayat ini disampaikan oleh Abu Ubaid dengan sanad yang hasan dari Abdurrahman bin Abi Laila.

Bila melihat peristiwa ini maka hal ini sangat sulit dimengerti oleh orang- orang yang masih awam. Mungkin mereka akan banyak bertanya,”Apa hubungannya antara berbekam dengan gangguan jin yang berupa sihir?” jawabannya adalah: pertama, sihir memiliki pengaruh merusak pada tubuh, terutama unsur darah dan metabolisme dalam badan, bahkan secara langsung mengganggu pencernaan. 

Bila pengaruh itu sudah mengenai salah satu organ tubuh, maka satu-satunya cara ialah mengeluarkan zat busuk yang mengganggu tersebut. Salah satu cara yang paling tepat dan manjur mengatasinya dengan berbekam. 

Tindakan ini terbukti benar, karena sesuai dengan pendapat seorang pakar kesehatan, Hippocrates yang menegaskan,”Sebuah zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh harus dipaksa keluar dari lokasi pengandapannya dengan menggunakan berbagai metode yang layak digunakan untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh.”

Kedua, sebagaimana dijelaskan di atas tentang darah sebagai daerah yang diserang dan dirusak oleh sihir, dan ditambah penjelasan hadits Rosulullah Saw, bahwa setan sebagai musuh manusia, makhluk sesat dan jahat, berjaln melalui seluruh aliran darah manusia untuk melakukan tipu daya dan sihirnya.

Karena setan senang dengan hal yang kotor, maka biasanya dia akan mengendap atau berdiam di sekitar pembuluh darah balik, dan di bawah kulit, tempat di mana berada darah kotor

Namun tidak ada yang mustahil bila bekam dipadukan dengan doa dan dzikir, insya Allah dapat mengobati penyakit sihir iru sendiri.

Dan yang menjadi dasar lagi kenapa bekam dapat dijadikan media pengobatan sihir adalah sebuah riwayat dari Ali bin Husain ra, bahwa Nabi Saw. bersabda,”Sesungguhnya setan itu berjalan dalm tubuh anak adam melalui aliran darah.” (HR. Bukhari)

Jadi, menjadi hal yang logis bila dilakukan tindakan pembekaman berupa pembuangan darah kotor terhadap penderita penyakit sihir tersebut. Karena bubul-bubul atau simpul-simpul sihir setan dalam darah manusia dapat dikurangi secara drastic, darah kotor ikut keluar, dan aliran darah menjadi lancar. Selain itu penderita yang terkena sihir harus diterapi jugatindakan penyembuhan sampingan lain, yakni pembacaan dzikir, ayat suci Al-Qur’an, dan do’a yang secara aktif akan menghilangkan reaksi dan pengaruh sihir, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

BATALKAH PUASA ORANG YANG BERBEKAM...?

” ini adalah pendapat terakhir yang kami pegang “


PEMBUKAAN

بِسمِ الله الرَّحمنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ أَحْمَدُهُ، وَأَسْتَعِينُهُ، وَأَسْتَنْصِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أمَّا بَعدُ:
Puasa merupakan salah satu ibadah yang mulia, karena mulianya maka seseorang dituntut untuk menjaganya, menjaga keutamaannya dan menjaga pula dari berbagai perusak atau pembatal-pembatalnya.

HUKUM BAGI YANG BERBEKAM SEDANGKAN DIA BERPUASA
Diantara perkara yang diperbincangkan oleh kaum muslimin adalah permasalahan yang berkaitan dengan bekam, apakah dia membatalkan puasa ataukah tidak ?


Ibnul Bathol Rohimahulloh berkata di dalam “Syarhu Shohihil Bukhoriy” (4/81):

“وأما الحجامة للصائم: فجمهور الصحابة والتابعين والفقهاء على أنه لا تفطره”.
“Adapun berbekam bagi orang yang berpuasa maka (telah berpendapat) jumhur (kebanyakan) para shohabat, tabi’in (murid-murid para shohabat) dan para ahli fiqih bahwasanya dia tidak membatalkan puasa”.  Dan ini adalah pendapat yang rojih (kuat/benar).

PENDAPAT ABU HANIFAH DAN PENGIKUTNYA
Abu Hanifah dan para pengikutnya berkata:

“إِنِ احْتَجَمَ الصَّائِمُ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْءٌ”.
“Jika orang yang berpuasa berbekam maka tidak memudhorotkan (puasa)nya sedikitpun”. (Al-Istidzkar: 3/326).

Pendapat Abu Hanifah serta para pengikutnya ini adalah global, yang benar adalah adanya rincian, lihat perkataan Asy-Syaukaniy Rohimahulloh pada kesimpulan (akhir pembahasan ini).

PENDAPAT ORANG-ORANG YANG MENGANGGAP BERBEKAM MEMBATALKAN PUASA
Adapun pendapat yang menyebutkan tentang batalnya puasa bagi yang berbekam maka ini adalah pedapat Al-Auza’iy, Ahmad dan Ishaq, serta yang selain mereka.

Mereka berhujjah dengan hadits:

«أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ».
“Batal puasanya orang yang membekam dan yang dibekam”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Huroiroh (no. 1679) dan Tsauban (no. 1680), An-Nasa’iy dari Tsauban (no. 3120) dan Syaddad bin Aus (no. 3126), Abu Dawud dari Syaddad bin Aus (no. 2369) dan Tsauban (no. 2367), At-Tirmidiy (no. 774) dari Rofi’ bin Khodij, dan beliau (At-Tirmidziy) berkata: “Pada bab ini diriwayatkan dari ‘Ali, Sa’d, Syaddad bin Aus, Tsauban, Usamah bin Zaid, Aisyah, Ma’qil bin Sinan dan dikatakan pula Ibnu Yasar, Abu Huroiroh, Ibnu ‘Abbas, Abu Musa dan Bilal, dan hadits Rofi’ bin Khodij adalah hadits hasan shohih.

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Huroiroh (no. 8768), Tsauban (no. 22371), Aisyah (no. 26217), Rofi’ bin Khodij (no. 15828), Ma’qil bin Sinan Al-Asja’iy (15901), Bilal (no. 23888), dan Syaddad bin Aus (no. 17119).

Hadits tersebut adalah shohih, hanya saja hukumnya terhapus dengan adanya penjelasan dari Abu Qilabah, bahwasanya beliau mengabarkan:

“أَنَّ شَدَّادَ بْنَ أَوْسٍ بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَقِيعِ…”
“Bahwasanya Syaddad bin Aus ketika dia berjalan bersama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam di Baqi’…”.

Dan yang menguatkan tentang itu adalah apa yang dikatakan oleh Ibnul Bathol Rohimahulloh, beliau berkata di dalam “Syarhu Shohihil Bukhoriy” (4/81):

“والفتح كان فى سنة ثمان، وحجة الوداع سنة عشر، فخبر ابن عباس متأخر ينسخ المتقدم”.
“Dan Fathul Makkah terjadi pada tahun ke 8 (delapan), dan haji Wadda’ pada tahun ke 10 (sepuluh), dan khobar Ibnu ‘Abbas adalah terakhir dan menghapus yang terdahulu”.

Adapun khobar Ibnu Abbas maka lafadznya adalah:

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ”.
“Bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berbekam dan dia adalah berihrom, dan dia adalah berpuasa”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhoriy di dalam “Shohih”nya (no. 1938).

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma tidaklah menemani Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ketika ihrom melainkan pada haji Wada’.

Adapun hadits:

«أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ».
“Batal puasanya orang yang membekam dan yang dibekam”, maka dia terjadi pada Fathul Makkah (hari pembebasan Makkah).

BERBEKAM BAGI YANG PUASA ADALAH RUKHSOH (KERINGANAN)
Datang dalam suatu riwayat dari hadits Abu Sa’id Al-Khudriy, yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1971) dan dishohihkan oleh Al-Albaniy dengan lafadz:

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ”.
“Bahwasanya Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan keringanan tentang berbekam bagi orang yang berpuasa”.

Dan lafadz ini diriwayatkan pula oleh An-Nasa’iy di dalam “As-Sunan Al-Kubro’” (no. 3228).

Ibnu Hazm Rohimahulloh berkata di dalam “Al-Muhalla” (4/337):

“وَلَفْظَةُ “أَرْخَصَ” لَا تَكُونُ إلَّا بَعْدَ نَهْيٍ”.
“Dan lafadz “arkhosh” (keringanan) tidak akan terjadi kecuali setelah larangan”.

Dan diperjelas lagi dengan apa yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthniy di dalam “Sunan”nya (no. 2260) dari Tsabit Al-Bunaniy, dari Anas bin Malik, beliau berkata:

“أَوَّلُ مَا كُرِهَتِ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَفْطَرَ هَذَانِ»، ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ فِي الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ”.
“Awal kali dibencinya berbekam bagi orang yang puasa adalah bahwasanya Ja’far bin Abi Tholib berbekam dan beliau berpuasa, Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam lewat lalu berkata: “Telah batal puasa dua orang ini (yang berbekam dan yang membekam)”.

Tsabit Al-Bunaniy Rohimahulloh berkata:

“وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ”.
“Dan dahulu Anas berbekam dan dia adalah berpuasa”.

Khobar ini adalah shohih, Ad-Daruquthniy dalam membawakan khobar ini beliau berkata tentang sanadnya:

“كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ وَلَا أَعْلَمُ لَهُ عِلَّةً”.
“Semua (para perowi)nya adalah tsiqot (terpercaya), dan aku tidak mengetahui padanya ada kecacatan (kedho’ifan)”.

SEBAB ADANYA RUKHSOH
Malik bin Anas Rohimahulloh berkata di dalam “Al-Muwatho’”:

“لَا تُكْرَهُ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ إِلَّا خَشْيَةَ أَنْ يَضْعُفَ”.
“Tidak di-makruh-kan bekam bagi yang berpuasa, melainkan khowatir akan melemahkan (orang yang berpuasa)”.

Dan diriwayatkan dari sekelompok shohabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya mereka membenci bekam bagi yang berpuasa. Lihat “Al-Istidzkar” (3/326).

KESIMPULAN PEMBAHASAN
Asy-Syaukaniy Rohimahulloh berkata di dalam “Nailul Author” (4/241):

“فَيُجْمَعُ بَيْنَ الْأَحَادِيثِ بِأَنَّ الْحِجَامَةَ مَكْرُوهَةٌ فِي حَقِّ مَنْ كَانَ يَضْعُفُ بِهَا وَتَزْدَادُ الْكَرَاهَةُ إذَا كَانَ الضَّعْفُ يَبْلُغُ إلَى حَدٍّ يَكُونُ سَبَبًا لِلْإِفْطَارِ، وَلَا تُكْرَهُ فِي حَقِّ مَنْ كَانَ لَا يَضْعَفُ بِهَا، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ تَجَنُّبُ الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ أَوْلَى، فَيَتَعَيَّنُ حَمْلُ قَوْلِهِ: “أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ”.
“Maka dijama’ (dikompromikan) antara hadits-hadits bahwasanya berbekam adalah makruh (dibenci) bagi orang yang berpuasa melemah karena sebab berbekam, dan bertambah hukumnya makruh (dibenci) jika kelemahan itu mencapai batasan sebab batalnya puasa, dan tidaklah dimakruhkan bagi orang yang tidak melemah dengan sebab berbekam, dan pada setiap keadaanmenjauhi berbekam bagi yang berpuasa itu lebih utama“.

PENUTUP
Demikian pembahasan yang singkat ini, dan ini adalah pendapat terakhir yang kami pegang.

Harapan kami semoga Alloh menjadikan pembahasan ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, dan siapa saja yang mencintai kami karena Alloh serta bagi siapa saja yang mendoakan kebaikan kepada kami dan yang membantu kami.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك


Ditulis oleh hamba yang faqir atas ampunan Robbnya
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy [1]
Di Darul Hadits Dammaj-Yaman
Pada hari Jum’at Dhuha 15 Rojab 1434 Hijriyyah 

Minggu, 27 Januari 2013

Tanggal Terbaik Berbekam

tanggal terbaik berbekam Tanggal Terbaik BerbekamBerbekam merupakan suatu kebiasaan Rasulullah SAW dalam menjaga kesehatannya, sudah barang tentu Rasulullah SAW melakukannya dalam waktu terbaik yang Rasul contohkan bagi umatnya, keterangan tentang waktu terbaik atau tanggal terbaik berbekam adalah :

رَوَى التّرْمِذِيّ فِي ” جَامِعِهِ ” : مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبّاسٍ يَرْفَعُهُ إنّ خَيْرَ مَا تَحْتَجِمُونَ فِي يَوْمِ سَابِعَ عَشْرَةَ أَوْ تَاسِعَ عَشْرَةَ وَيَوْمِ إحْدَى وَعِشْرِينَ
At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam Ja`mi-nya dari hadits Ibnu Abbas secara marfu : “ Sesungguhnya sebaik-baik waktu untuk melakukan bekam adalah hari ke-17, 19 dan 21”.

وَفِيهِ عَنْ أَنَسٍ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَحْتَجِمُ فِي الْأَخْدَعَيْنِ وَالْكَاهِلِ وَكَانَ يَحْتَجِمُ لِسَبْعَةَ عَشَرَ وَتِسْعَةَ عَشَرَ وَفِي إحْدَى وَعِشْرِينَ
Juga termuat didalamnya, dari Anas ra. ,”adalah Rasululloh SAW. Berbekam pada kedua urat lengan dan punuk.beliau SAW. berbekam pada hari yang ke 17, 19 dan 21″.

trans Tanggal Terbaik Berbekam
وَفِي ” سُنَنِ ابْنِ مَاجَهْ ” عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا : مَنْ أَرَادَ الْحِجَامَةَ فَلْيَتَحَرّ سَبْعَةَ عَشَرَ أَوْ تِسْعَةَ عَشَرَ أَوْ إحْدَى وَعِشْرِينَ لَا يَتَبَيّغْ بِأَحَدِكُمْ الدّمُ فَيَقْتُلَهُ “
Termuat dalam Sunan Ibnu Majah dari Anas secara marfu :”Barang siapa yang hendak berbekam , maka hendaklah ia memilih hari yang ke 17,19 atau 21.dan jangan sampai darah membuih pada salah seorang dari kamu, sehingga akan membunuhnya.”

وَفِي ” سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ ” مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا : مَنْ احْتَجَمَ لِسَبْعَ عَشْرَةَ أَوْ تِسْعَ عَشْرَةَ أَوْ إحْدَى وَعِشْرِينَ كَانَتْ شِفَاءً مِنْ كُلّ دَاءٍ وَهَذَا مَعْنَاهُ مِنْ كُلّ دَاءٍ سَبَبُهُ غَلَبَةُ الدّمِ .

Termuat dalam Sunan Abu dawud, dari hadits Abu Huroiroh ra. , secara marfu: “ barang siapa yang berbekam pada hari yang ke 17,19 atau 21. maka yang demikian merupakan penyembuhan dari segala penyakit”.ini maknanya : Dari segala penyakit yang di sebabkan kebanyakan darah.

وَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ مُوَافِقَةٌ لِمَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْأَطِبّاءُ أَنّ الْحِجَامَةَ فِي النّصْفِ الثّانِي وَمَا يَلِيهِ مِنْ الرّبُعِ الثّالِثِ مِنْ أَرْبَاعِهِ أَنْفَعُ مِنْ أَوّلِهِ وَآخِرِهِ وَإِذَا اُسْتُعْمِلَتْ عِنْدَ الْحَاجَةِ إلَيْهَا نَفَعَتْ أَيّ وَقْتٍ كَانَ مِنْ أَوّلِ الشّهْرِ وَآخِرِهِ .

Hadits-hadits ini sesuai dengan apa yang disepakati oleh para dokter , bahwa berbekam pada pertengahan bulan yang kedua dan sesudahnya , yakni ¼ ( seperempat ) yang ke empat dari ke 4 minggunya, lebih bermanafaat dari awalnya dan akhirnya dan apabila ia dilakukan pada waktu yang diperlukan , ia akan bermanfaat kapanpun waktunya, baik pada awal bulan maupun pada akhirnya.

قَالَ الْخَلّالُ أَخْبَرَنِي عِصْمَةُ بْنُ عِصَامٍ قَالَ حَدّثَنَا حَنْبَلٌ قَالَ كَانَ أَبُو عَبْدِ اللّهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْتَجِمُ أَيّ وَقْتٍ هَاجَ بِهِ الدّمُ وَأَيّ سَاعَةٍ كَانَتْ .

Al-khollal mengatakan : Ushmah bin `Isham telah memberitakan kepadaku : katanya Imam ahmad bin hanbal menceritakan kepada kami , katanya adalah Abu Abdullah Ahmad bin hanbal berbekam kapan saja apabila darah telah bergejolak dan kapan saja waktunya.

وَقَالَ صَاحِبُ ” الْقَانُونِ ” : أَوْقَاتُهَا فِي النّهَارِ السّاعَةُ الثّانِيَةُ أَوْ الثّالِثَةُ وَيَجِبُ تَوَقّيهَا بَعْدَ الْحَمّامِ إلّا فِيمَنْ دَمُهُ غَلِيظٌ فَيَجِبُ أَنْ يَسْتَحِمّ ثُمّ يَسْتَجِمّ سَاعَةً ثُمّ يَحْتَجِمُ انْتَهَى

Pengarang kitab Al-Qonun Fii Thibb ( yakni Ibnu Sina seorang U`lama pengarang ilmu kedokteran pertama Islam ) mengatakan : “ Waktu-waktunya yang tepat pada siang hari adalah jam 2 atau jam 3. dan wajib ditentukan saatnya sesudah mandi, kecuali bagi yang darahnya tebal. Maka dia wajib mandi kemudian menghangatkan diri satu jam dan kemudian berbekam.

Kesimpulannya adalah Waktu Terbaik Berbekam atau tanggal terbaik berbekam adalah pada tanggal 17, 19 atau 21 pada setiap bulannya. Dan tentunya tanggal bulan hijriyah, bukan masehi.